Anda sering harus bergadang semalaman mengerjakan tugas untuk diserahkan besoknya, padahal tugas itu diberikan dua minggu lalu? Atau, Anda serung merasa dikejar-kejar waktu kerika menulis laporan proyek yang sudah selesai satu bulan lalu? Kalau ya, Anda tidak sendirian.
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mengajurkan memberi makan orang miskin. Maka kerugianlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai (sahuun) dari sholatnya.”(QS. Al-Maa’uun:1-5)
Dalam dunia kerja, menunda pekerjaan yang baisa disebut procrastinator dianggap lemah dalam hal menajemen atau pengaturan waktu. Mereka dianggap tidak bisa memilah dengan benar mana hal yang penting dan harus dikerjakan lebih dulu dan mena yang tak penting. Mala ada anggapan mereka itu pemalas. Tapi, menurut Joseph Ferrari, Ph.D. Profesor psikolog dari DePaul University, Chicago, peneliti-peneliti sikap menunda pada abad ke-20 menyimpulkan prokrastinasi disebabkan gangguan kejiwaan dan kepribadiaan.
Joseph Ferrari mengatakan, pemuda kronis biasanya meragukan kemampuan dirinya sendiri dan sangat khawatir terhadap penilaian orang lain. “Jadi, logika mereka, ‘kalau saya tak perna menyelesaikan pekerjaan saya, orang lain tak mungkin menilai kemampuan saya’,” kata Ferrari. Menunda pekerjaan juga memungkunkan seorang penunda menemukan dalih jika pekerjaannya tak optimal. “Mereka sangat takut diragukan kemampuannya sehingga memiluh menalakan hal lain, seperti waktu yang tak cukup atau terburu-buru mengerjakan ketika hasil kerja mereka tak optimal,” kata Ferrari lagi.
Lebih parah lagi, para penunda cenderung “merusak” kemampuan mereka untuk menjamin dalih kerika hasil kerjanya tak optimal. Maksudnya, kebanyakan penunda secara sengaja memilih untuk menciptakan situasi yang akan bisai ia salahkan jika hasil kerjanya tak optimal dengan begitu, jika ada sesuatu yang salah, mereka berharap orang lain akan menyalah
